Politik

Jagung Versus Sorgum di Era Sakaratul Maut Petani dan Peternak Kecil

KESATU ONLINE – Ada sesuatu yang janggal terjadi dengan situasi harga jagung yang saat ini terus meningkat, mulai dari harga Rp. 3.150 dan kini menuju Rp. 6.500, sebetul nya ada masalah apa dengan jagung… ?, Apa kah produktivitas nya yang turun, atau konsumsi nya yang naik ?.

Hal ini terungkap dalam diskusi di Group Whatsapp Forum Silaturahmi Perhimpunan Pergerakan Indonesia Pimpinan Daerah Jawa Barat (GWA FORSIL PPI JABAR) sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum PPI Pimda JABAR, bahwa “dari Rp. 3.150 menuju Rp. 6.500, ini karena masalah apa?, apa kah produktivitas jagung yang turun, atau konsumsi yg naik ?”.

Kemudian beliau menyampaikan satu kesimpulan sebagaimana berikut bahwa Produktifitas jagung masih lebih tinggi dibandingkan sorghum, dan kalau di lihat tipologi nya biaya produksi jagung, tidak jauh berbeda dengan sorgum, kecuali harga benih, dan frekuensi panen, tetapi dengan harga jagung sampai kisaran Rp. 6.500, menunjukkan bukan karena harga pokok penjualan (HPP) yang tinggi, tetapi karena demond lebih tinggi dari Supply, sementara tingkat produksi nya rendah sedangkan permintaan dalam keadaan meningkat.

Sementara alternatif dengan mengalihkan konsumsi jagung kepada sorghum untuk pakan ternak unggas jelas hal ini belum tepat, karena produksi nya masih rendah dan mengakibatkan Hpp tinggi.

Bahwa kemudian biji sorghum masih dikisaran harga Rp. 3600, hal ini dikarenakan demond nya pun masih rendah, dan produk sorgum ini belum dikenal secara luas, maka jika kita simpulkan hara Rp. 3.600 – Rp 4.000 sebagai acuan harga keekonomian sorghum, tentu ini jelas menjadi blunder bagi petani karena bersifat semu, untuk itu perlu dikritisasi analisa nya.

Sebagaimana dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Direktorat Peternakan dari Kementerian Pertanian RI dengan Komisi IV DPR RI dalam sepekan terakhir, dan hal ini telah kita saksikan melalui video nya yang di Upload di youtube.

Hal ini menunjukkan terdapat kedangkalan analisa untuk menjadi substitusi pakan ternak dengan hanya karena mempertimbangkan harga sorgum jauh lebih murah, jika tidak melihat tingkat keekonomian ditingkat petani.
Kepositifan dari hasil RDP di atas, semata hanya memperlihatkan diri bahwa pemerintah sudah mulai peduli dan perhatian pada tanaman sorgum sehingga sorgum akan semakin di kenal oleh masyarakat petani, di luar itu belum bisa dinyatakan bahwa kementerian pertanian RI melalui Direktorat Peternakan memiliki kepedulian terhadap petani sorgum terkhusus para peternak skala rakyat di pedesaan.

Disisi lain akun dengan nama Maxdeul sholah menyampaikan bahwa mendorong pengembangan Sorgum sejak tahun 2000 memang baru terlihat menggeliat di pertengahan tahun 2021, karena sorgum bisa ditanam pada daerah yang selama ini tidak cocok ditanami oleh jagung, karena satu hal yaitu kekurangan Air seperti di NTT/NTB dan daerah galian Tambang, selain itu Sorgum memiliki pembiayaan yang biaya bisa hemat karena bisa ratun (panen berulang).

Melihat tingkat effektifitas dan effisiensi budidaya sorgum, dengan situasi harga jagung terus meningkat dan semakin mahal, maka ada beberapa hal yang perlukan, yaitu ; Importasi jagung pada dasarnya masih perlu dan tetap ada dengan jumlah yang tidak banyak tetapi terkendali dengan baik, selain itu perlu keadilan dalam distribusinya, karena pihak importir baik BUMN maupun para pemodal besar, belum transparan dalam melakukan distribusi secara merata di tanah air.

Ketidak adilan ini terjadi dimana perlakuan pada pelaku usaha unggas dalam skala besar malah mendapatkan bahan baku pakan harga murah, sedangkan peternakan rakyat berjibaku membuat campuran dengan bahan pakan sendiri, yang berbasis jagung lokal dengan harga yang mahal, dan yang terjadi peternak rakyat tidak mampu bersaing dan lambat laun akan menjadi mati dengan sendiri nya karena kalah bersaing, pada sisi ini terjadi lah pembunuhan usaha terhadap peternakan skala rakyat secara sistematik.

Untuk itu perlu digaris bawahi dengan huruf yang tebal agar rumusan ekosistem tata niaga pedesaan dalam tema jagung dan sorgum ini, bisa dijalankan secara berkelanjutan serta menjadi tanggung jawab bersama dalam dilingkaran jejaring rakyat,

Mengingat oknum – oknum dalam naungan importir jagung, baik BUMN maupun pemodal besar, sudah tidak bisa lagi diharapkan untuk berpihak kepada rakyat, termasuk kebijakan pemerintah yang tidak fokus pada pemberdayaan peternakan skala rakyat,

Untuk itu perlu melakukan pencerahan dikalangan petani kecil dan peternakan skala rakyat dengan merencanakan masa tanam jagung yang tepat dan terus meningkatkan kepercayaan diri agar posisi harga jagung tetap berpihak kepada peternak unggas milik rakyat petani, karena berharap pada jagung import dengan harga yang murah sudah kesulitan ditengah permainan para mafia importir baik BUMN maupun para pemodal besar.

Sementara itu peternak ruminansia yang secara melekat menggunakan jagung dengan situasi tenggang produksi sorgum belum mencukupi permintaan sepenuh nya, terus diupayakan untuk beralih kepada sorgum karena selain protein dan nutrisi nya yang lebih tinggi dari jagung, juga sorgum memiliki harga yang bisa terjangkau dengan harga lebih murah dari pada jagung, tetapi petani sorgum tidak kehilangan untung dan manfaat dari kegiatan menanam sorgum bahkan mampu memproduksi melebihi dari produksi tani jagung.

Inilah solusi yang harus di ambil, karena dengan begitu terjadi kesetimbangan antara harga jagung dan sorgum, sementara petani sorgum mendapatkan manfaat yang lebih tinggi, jagung pun terkendali dan peternakan rakyat tetap hidup, bahkan mampu bersaing dengan perusahaan ternak yang memiliki skala kuota besar.***

Oleh:Rd. Dadan K. Ramdan, MT
Sekretaris Umum PPI Pimda Jabar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top