Politik

Pandemi Covid-19 Merubah Pola Bisnis dari Offline ke Bisnis Digital

KESATU ONLINE – Pandemi Covid-19 secara tidak langsung telah mendorong perubahan baru dalam langgam bisnis Indonesia. Perubahan tersebut yaitu beralihnya bisnis offline menuju bisnis digital yang dikenal juga sebagai fenomena kewirausahaan digital. Media sosial dan market place (perantara) dapat menjadi sebuah konsep untuk mempermudah pelaku UMKM mendapat akses pemasaran yang lebih luas.

Demikian disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Junico BP Siahaan, dalam Kegiatan Forum Diskusi Publik “Teknologi Digital Bagi Kesejahteraan Masyarakat” yang dilaksanakan secara daring pada 3 Juli 2021.

“Saya yakin tidak lama lagi, dengan begitu pesatnya perkembangan, apalagi Industri 4.0 sudah ada di depan mata, teknologi 5G sudah ada di depan kita, semuanya akan bisa dikerjakan hanya melalui handphone pribadi kita,” ungkap pria yang akrab disapa Nico Siahaan.

“Dengan berkembang pesatnya Teknologi digital, kami dari Komisi I sedang mempersiapkan UU Perlindungan Data Pribadi dengan tujuan untuk melindungi data pribadi masyarakat dari tindak penerobosan data,” sambungnya.

Salah satu bidang yang juga terkena dampak dari pandemi Covid-19 yaitu bidang pariwisata. Peran penting pariwisata yaitu penerimaan devisa, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, mengurangi jumlah pengangguran, dan meningkatkan produktivitas suatu negara.

Pemerintah menyesuaikan proyeksi kunjungan wisman tahun 2021 sebesar 4-7 juta wisman. Dalam mewujudkan target optimis tersebut pemerintah fokus kepada penyelesaian pembangunan infrastruktur utamanya di 5 destinasi super prioritas, yakni; Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Memperkuat fasilitas Tiga A pariwisata, yaitu Atraksi, Amenitas, dan Aksebilitas.

“Para pelaku UMKM khususnya di daerah wisata yang terdampak paling besar, harus melakukan berbagai penyesuaian dalam berkreasi, termasuk peralihan aktivitas usaha ke ruang-ruang digital,” ujar Septriana Tangkary Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian Maritim Kominfo

UMKM dituntut untuk adaptif, kreatif dan mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pasar. Per Maret 2021, jumlah UMKM yang sudah masuk ke ekosistem digital sebesar 4,8 juta.

Pelaku industri wisata disisi lainnya adalah ekonomi kreatif. Tenaga kerja terdampak yang didaftarkan untuk katu prakerja melalui Kemenparekraf RI sebanyak 35.289 Tenaga Kerja, sedangkan Tenaga Kerja terdampak yang telah diusulkan untuk mendapatkan bantuan Gubernur Jawa Barat melalu Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat sebanyak 39.673. Pada masa pandemi Covid-19, pasar Indonesia hampir 71% adalah pasar milenial.

Dapat diartikan bahwa maju nya Teknologi Digital membuat masyarakat lebih memilih hal praktis yang memudahkan segala kebutuhannya hanya dalam genggaman yang dikemas dalam handphone (telepon genggam).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Dedi Taufik mengatakan, dalam program ICALAN, pihaknya bersama Komite Ekonomi Kreatif dan Inovasi (KREASI) Jabar dan Bank BJB menghadirkan marketplace bernama borongdong.id.

“Pelaku UMKM dan pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Jabar dapat memasarkan produknya di platform tersebut,” tegas Dedi Taufik dalam Kegiatan Forum Diskusi Publik.

Ada sejumlah syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi pelaku UMKM dan Ekraf untuk menjadi mitra Borondong.id. Syarat dan ketentuan itu menjadi landasan dalam proses penyaringan. Terdapat sejumlah keuntungan yang didapatkan pelaku UMKM dan Ekraf apabila bergabung dalam borongdong.id yang pertama yaitu, produk menjadi terdigitalisasi dan pasarpun dipastikan akan meluas.

Selain itu pelaku UMKM dan Ekraf memiliki kepastian pembeli. Dalam tahap awal aparatur sipil negara (ASN) menjadi sasaran prioritas. “ASN dipilih karena selama pandemi Covid-19 pendapatan mereka stabil, kami juga akan membuat kampanye belanja produk UMKM adalah bela negara,” ujar Dedi Taufik. [red]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top