Nasional

Sikap Mencegah Kehancuran Sorgum Nusantara

KESATU ONLINE – Dalam setiap perbincangan kunjungan ke masing – masing di daerah kabupaten dan kota di Jawa Barat, ada banyak pertanyaan yang menggelitik tertuju kepada saya secara pribadi sebelum acara formal di mulai, maklum pertanyaan tersebut muncul nya dari kalangan sahabat aktifis nota bene adalah temen – temen kahmi muda di daerah.

Pertanyaan nya sederhana, pertama kira – kira bernada seperti ini, “Dengan latar belakang akang yang telah menembus jejaring nasional dan daerah, seperti nya tidak sulit untuk mendapatkan proyek yang melimpah ruah baik itu dari APBN maupun APBD, dibandingkan dengan hanya bergelut dalam bisnis dan budidaya sorgum, lantas apa yang di cari …?” 

Pertanyaan kedua, “kang saya melihat begitu agresive dan masive nya akang bergerak ke setiap daerah dengan menonjolkan sorgum sebagai obyek utama, saya sih berfikir, sorgum bukan lah target akang, lantas apa sebenarnya target yang sedang akang kerjakan ini…?”

Pertanyaan ketiga, “emang apa target akang sehingga harus bergerak secara masive ke daerah – daerah, apakah ingin menjadi gubernur”, 

Pertanyaan senada ini juga muncul di purwakarta “apakah ingin menjadi bupati…?”

Saya hanya bisa tersenyum dengan tiga kategori pertanyaan di atas, dan dalam kerangka berfikir analitik atau dalam logika berfikir kritis saya, ketiga kategori pertanyaan di atas malah menginspirasi menjadi tiga rumusan masalah dan akan menghasilkan tiga hipotesa menjadi satu penelitian desertasi atau bahkan lebih dari dua desertasi, 

Tapi itu hanya sebatas lamunan atas formasi berfikir yang nakal jika melihat setiap ada kasus yang menghasil rumusan masalah.

Kembali pada tiga pertanyaan di atas, akhir nya secara formal dalam setiap forum pertemuan itu saya sampaikan, bahwa ini bukan perso’alan proyek APBN dan APBD karena kita bergerak hampir 99.99% tidak menggunakan APBN dan APBD, 

Dan ini bukan perso’alan business karena tidak melulu mencari berapa keuntungan bersih yang bisa menjadi asset keluarga atau minimal menjadi asset perusahaan, serta juga hal ini bukan perso’alan agenda serta arah minat dalam berpolitik untuk meraih kekuasaan,
 
Tetapi ini semata ada sesuatu yang lebih urgent dari ketiga hal di atas, ini adalah perjuangan mengawal asset nusantara, yang terdapat dalam sorgum, karena sorgum memiliki potensi seperti mutiara yang tersembunyi tapi ditempat yang terang.

Baca Juga:  Pemkab Purwakarta Dukung Desa Miliki Pengelolaan Sampah Mandiri

Mengapa sorgum harus kita kawal, karena pertama tidak lama lagi sorgum akan menyebar di tengah – tengah masyarakat petani, karena pemerintah melalui kementerian pertanian RI dan bahkan sampai tingkat kabupaten kota, sudah masive dan merata melakukan sosialisasi manfaat budidaya tanaman sorgum, terutama di daerah jawa barat, 

Tetapi saya ingatkan bahwa semua gerakan pemerintah itu selalu dihadapkan pada persoalan pasca panen dan tidak terkelola dalam kemasan yang rigid menjadi sebuah gerakan nasional, sehingga hanya menghasilkan proyek untuk memenuhi aspek formal administrasi belaka, 

Dan ini menjadi celah yang berbahaya terhadap keberadaan sistem serta tatanan pertanian yang berpengaruh kuat pada tingkat karakter dan mentalitas bangsa, terutama masyarakat desa yang tertular para pelaku proyek formal.

Yang kedua JICA telah dan sedang melakukan penetrasi ke kamboja, dengan business plan of sorghum nya di rancang sampai 25 tahun,

Sementara dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, mereka sudah memiliki resume yang dahsyat untuk bergerak ke wilayah asia tenggara lain nya, 

Jika ini terjadi maka, sorgum di negara – negara asia tenggara akan murah tetapi berkualitas tinggi,

Sementara para petani yang sudah terlanjur melakukan budidaya tanaman sorgum tidak akan mampu bersaing dengan JICA dalam wajah perusahaan yang hadir di negeri kita, 

Kenapa demikian … ?

Karena mereka hadir dalam wajah korporasi, bahkan dalam resume terakhir hasil penelitian CMAC telah muncul draft business plan for the proposed agricultural cooperative (November 19, 2019), didalam pengajuan business plan tersebut ada dua orientasi besar yang perlu sikapi di bagian kedua nya, yaitu obyeksi terhadap Democratic member control dan Dynamism of Governance.

Baca Juga:  HUT Pramuka ke-59, 75 Orang Menerima Penghargaan dari Bupati Purwakarta

JICA melalui CMAC telah menghasilkan dua metode pendekatan terhadap pengelolaan sorgum menjadi dua skema tahapan yaitu pengelolaan budidaya dan pengelola silage sorgum, pengelolaan keduanya akan dilakukan pendekatan dengan skala mas production dan industrial process, hal ini berimplikasi pada pelaksanaan proyek dalam bentuk kolosal.

Kebayang jika proyek itu dilakukan dengan model kolosal, pergerakan nya tidak terkendala oleh kontur tanah, tidak terkendala dengan mekanisasi budidaya sorgum dan tidak terkendala dengan pengelolaan panen serta pasca panen, termasuk sistem transportasi, distribusi logistik bisa dilakukan dalam skala terukur secara baik dalam bentuk antrian dan jadwal yang tepat, dan jepang sangat mahir dalam pemodelan serta implementasi simulasi ini.

Perlakuan terhadap tanah akan dilakuan dengan pendekatan cut and fill, sehingga permukaan tanah yang tadi nya bergelumbung dalam bentuk terasiring, bisa di bentuk menjadi bentangan yang rata dan datar sejauh mata memandang, kemudian dinormalisasi melalui pengolahan tanah dan pemberian pupuk dengan kelengkapan mekanisasi nya.

Sistem tanam automatically beserta proses pemeliharaan yang berjalan digital, telah dilakukan uji coba oleh yanmar, karena yanmar sudah lama mengembangkan sistem digitasi AI dan Smart tractor machinery, 

Di sisi lain, meskipun harvester machinery jepang masih kalah jauh dengan Claas dan jhon deer termasuk made in holland, tetapi paling tidak, kendala utama pasca panen sorgum sudah bisa teratasi dengan baik menjadi roll baler yang effektive serta effiesien dan siap terkirim kepada para end user, mulai peternakan mitra maupun untuk ekspor, meskipun ekspor nya nanti atas nama indonesia, 

Iya kalau hal tersebut dilakukan untuk memenuhi eksport, bagaimana jika untuk memenuhi kebutuhan domestik ?, 

Dan berikutnya perusahan – perusahan ternak sapi nasional akan berjibun antri untuk membeli silage sorgum produk perusahan jepang ini, 

Karena selain murah juga memiliki kualitas yang bersaing.

Baca Juga:  Dinas Perpusda Purwakarta Luncurkan Program Tingkatkan Literasi

Lantas bagaimana dengan rakyat petani kita …?,

Mereka hanya akan asyik menonton formasi film gerakan kolosal sorghum mas production and industrial process nya, kemudian hal ini akan dilanjutkan dengan tangisan darah yang mudah diprovokasi untuk menjadi gejolak horisontal dan bahkan menjadi antrian jadwal unjuk rasa dalam bentuk demonstrasi atas nama kemiskinan, pengangguran, ketertindasan, serta tema – tema lain nya.

Di sisi lain pemerintah bukan tidak bisa berbuat apa apa…, 

Tetapi jejak rekam keterlibatan jepang dalam pembangunan nasional telah menjadi hegemoni yang mencengkram dalam bentuk bantuan utang dan hibah lingkungan yang di anggap telah memberikan jalan pembangunan atas pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rahyat Indonesia.

Bahkan sektor industri manufaktur negeri kita, hampir seutuhnya milik jepang, dengan tanpa menafikan Korea Selatan, India dan kini china masuk juga ke area industri manufaktur domestik.

Hal ini menempatkan posisi pemerintah pada pilihan sikap yang sulit dan akan menjadikan tekanan terhadap pemerintah, bahkan siapapun presiden nya termasuk gubernur dan bupati nya yang menjadi penguasa di negeri in.

Kesimpulan yang bijak dari para pengusa ini adalah kompromi dalam bentuk program pengembangan ekonomi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat, dan permintaan ini sudah disikapi oleh Jepang melalui agenda JICA, dalam bentuk business plan yang memuat rumusan preventif dengan sikap balik Democratic member control dan Dynamism of Governance sebagaimana yang telah di susun peneliti CMAC.

Pernyataan dan pertanyaan terakhir dalam hampir setiap forum konsolidasi PPI Pimda Jabar dengan pimcab – pimcab adalah “jika situasi nya seperti itu, akang harus ajak kami jika akang tidak ajak kami maka akang musuh kami”, tetapi muncul juga dalam forum itu pertanyaan senada ini “dengan fenomena seperti itu, lantas bagaimana kita harus mensikapi nya”.

Jawab nya dalam tulisan berikut nya.

Penulis: Dadan K. Ramdan
Sekretaris Umum PPI Pimda JABAR

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Populer

To Top