Jawa Barat

Pesona Waduk Jatiluhur, Air Mengayun Mewahyu Bumi

Waduk Jatiluhur/PUPR

SALAH satu waduk multifungsi yang berada di Jawa Barat. Objek wisata favorit yang keindahan nya pun tak diragukan lagi hingga sampai saat ini kawasan tersebut masih memiliki pesona yang luar biasa. Bendungan Jatiluhur merupakan Bendungan terbesar di Indonesia yang membendung aliran sungai Citarum di Kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat.

Konstruksi itu dilakukan pada tahun 1957 oleh Kontraktor Prancis Campagnie Francaise d’entreprise, dimana memiliki potensi air yang tersedia yaitu sebesar 12,9 miliar meter kubik per tahun dan merupakan Waduk serbaguna pertama yang ada di Indonesia kala itu.

Didalam keindahan Sungai yang membentang dengan luas hingga 4.500 kilometer persegi itu, ternyata ada 14 Desa yang Berkorban Tenggelam dengan penduduk berjumlah kurang lebih 5000 orang yang diamankan dan dipindahkan ke daerah sekitar Bendungan dan ada sebagian pindah ke Kabupaten Karawang.

Baca Juga:  Penerbitan Perpres Pembangunan Rebana dan Jabar Selatan Harus Disertai Penguatan Kolaborasi

Kurang lebih 10 tahun pembangunan Bendungan Jatiluhur yang mulai dibangun pada tahun 1957, ditandai dengan peletakan batu pertama Oleh Presiden RI yaitu Ir. Soekarno pada tanggal 19 September 1965 yang merupakan kunjungan terakhir untuk Ir. Soekarno ke Bendungan Jatiluhur dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 26 Agustus 1967.

Dengan begitu, Bendungan Jatiluhur memiliki waktu konstruksi yang cukup lama dan juga sangat bersejarah di Indonesia, karena ini merupakan proyek besar yang pertama Indonesia yang dimana proses kontruksi nya dideklarasikan ketika Indonesia berumur 12 tahun.

Yang kemudian di beri nama Bendungan Ir. H. Djuanda bertujuan untuk mengenang jasa dari Ir. H. Djuanda dalam memperjuangan pembiayaan pembangunan Bendungan Jatiluhur. Maka dengan resmi, Bendungan ini dinamai Bendungan Ir. H. Djuanda.

Tidak berhenti sampai disini, bendungan Jatiluhur dijadikan sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar waduk untuk kawasan budidaya ikan. Dua buah menara pelimpah yang dimana memiliki arti ini terdapat pula di Kawasan Waduk Jatiluhur, yaitu Morning Glory dan luapan bantu ubrug.

Baca Juga:  Kebangaan Ambu Anne Melepas Peserta MTQ ke-36

Sangat tidak asing lagi untuk sebutan Morning Glory ini diambil dari kata bunga terompet karena bentuknya yang menyerupai bunga terompet. Bell-mount atau sebutan yang dilontarkan untuk menara kedua yaitu luapan bantu ubrug karena bentuknya hampir mirip dengan mulut lonceng ini berada di seberang waduk Jatiluhur.

Sebutan sebuah bentuk dari visi dan misi perusahaan yaitu Air Mengayun Mewahyu Bumi akan kita temukan ketika memasuki daerah PLTA Jatiluhur yang terpampang.

Setiap kata memiliki arti yang alangkah tinggi nya budaya tersebut. Air = 4, Mengayun = 6, Mewahyu = 9, Bumi = 1, lalu dibaca dari depan akan menghasilkan angka 1964 yang dimana ialah tahun selesainya pemasangan Unit 1 PLTA Jatiluhur.

Baca Juga:  Jabar-Kemenhub Salurkan Bantuan untuk Penyelenggara Transportasi Darat

Seakan-akan air bukan saja yang memberi nilai tambah bagi kehidupan, tetapi menjadi unsur utama dalam kehidupan. Sampai saat ini pun, Bendungan Jatiluhur banyak sekali menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia secara maksimal dan berkesinambungan.

Mewahyu yang berarti Wahyu ini adalah sebutan sebagai petunjuk dari Allah SWT., yang diturunkan hanya kepada Nabi dan Rasul-Nya untuk kepentingan dan kemaslahatan umat manusia.

Begitu juga dengan Air yang mengayun dari segala penjuru bumi yang mewahyukan segala nilai dirinya sebagai kehidupan manusia. Air juga dilambangkan sebagai kerendahan hati, kebaikan, kegigihan, kehidupan, fleksibilitas dan juga keseimbangan.

Oleh: Muhamad Ikbal
Penulis adalah Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi
NIM 162050405

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Populer

To Top