Khazanah

Dosen UNJ Terapkan Nilai-nilai Moderasi Beragama di Ponpes Nurul Huda Bekasi

Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr. Andy Hadiyanto, M.A, saat memberikan pelatihan kepada guru di pesantren.

KESATU ONLINE – Semakin banyaknya kasus-kasus radikalisme yang muncul di tengah masyarakat indonesia, menjadikan lembaga pendidikan yaitu sekolah khusus nya pesantren harus menaruh fokus yang besar dalam upaya mencegah dan menanggulanginya.

Demikian hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ilmu Sosial/Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr. Andy Hadiyanto, M.A, melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Pondok Pesantren Nurul Huda Setu Bekasi, belum lama ini.

Dia menyampaikan, wawasan yang lemah juga sempit seringkali menjadikan guru sebagai tenaga pendidik menggambarkan Islam sebagai agama yang kaku dan tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan.

“Para guru agama banyak yang cenderung memilih jalan pintas dalam menjelaskan Islam dengan kalimat yang diawali “kata tuhan” ataupun “kata nabi”. Padahal, dalam memahami sebuah materi pembelajaran Islam diperlukan berbagai kajian maupun diskusi yang dapat meluaskan sebuah pola piker,” ujar Dr Andy.

Baca Juga:  Uu Ruzhanul: Jabar Seirama dalam Tangani COVID-19

Lebih lanjut dia memaparkan, moderasi beragama yang mulai sering dimunculkan pada tahun 2019 dianggap mampu menjadi solusi atas ke khawatiran yang selama ini menyelimuti masyarakat.

“Moderasi beragama pada dasarnya mengacu kepada konsep Islam Wasthiyah atau yang sering dikenal Islam Tengah. Artinya pengamalan nilai-nilai keislaman tidak condong ke kanan atau ekstrimis atau condong ke kiri atau liberalis,” papar Dosen Bahasa Arab dan Tafsir Al-Qur’an ini.

“Kepincangan para lembaga pendidikan yang menerapkan moderasi beragama adalah tidak adanya standar yang jelas dalam menerapkan kegiatan tersebut. Kurangnya kemampuan mengakses berbagai literature kontemporer maupun terbarukan menjadi salah satu penyebab dari kekosongan standar tersebut. Sehingga, ketidak jelasan standar penerapan nilai-nilai moderasi beragama menjadi salah satu tantangan yang harus segera ditanggulangi,” sambungnya.

Baca Juga:  Optimalisasi BLK di Dunia Pesantren Memperkuat Moderasi Beragama

Melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam moderasi agama, lembaga pendidikan, salah satunya pesantren dapat memulai aktualisasi dalam keikutsertaan menjaga kualitas hasil kegiatan pendidikan. Internalisasi nilai-nilai moderasi beragama ini dapat ditempuh melalui mata pelajaran akidah akhlak.

“Hal tersebut dikarenakan pelajaran akidah akhlak memiliki dampak yang cukup besar pada diri seseorang. Pelajaran akidah akhlak dapat dikatakan sebagai wadah yang memberi juga menanamkan paradigma beragama yang baik dan benar. Selain itu, tujuan dari pelajaran akidah akhlak juga selaras dengan tujuan pendidikan nasionak yaitu menghasilkan individu peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Sehingga isu-isu radikalisme yang sering menjadikan pelajar dan mahasiswa sebagai sasaran dapat berkurang,” pungkasnya.

Baca Juga:  Peringati Hari Tanam Pohon Sedunia, Pemkab Purwakarta Tanam Pohon Lame

Sebagai informasi, pendapat tersebut disampaikan Dr. Andy Hadiyanto, M.A pada kegiatan pengabdian kepada Masyarakat melalui Program Kemitraan Masyarakat (PkM) di Pondok Pesantren Nurul Huda Setu Bekasi, dalam kegiatan itu dia mengangkat judul kegiatan: internalisasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pelajaran aqidah akhlak di pesantren.

[red]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Populer

To Top