Pendidikan

Dr. Amaliyah, M.Pd: Pendekatan Agama Solusi Tumbuhkan Sikap Peduli Lingkungan

Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) saat sosialisasi dihadapan Masyarakat di Jakarta.

KESATU ONLINE – Penguatan toleransi lingkungan merupakan sebuah instrumen dalam memberdayakan sikap peduli lingkungan.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi masyarakat untuk memiliki sikap peduli terhadap lingkungan antara lain pengaruh perintah agama dan sosiokultural.

Demikian hal tersebut diungkapkan Dosen Prodi PAI Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Amaliyah, M.Pd.

“Mengapa penguatan toleransi lingkungan sangat penting karena masayarakat  cenderung mengabaikan kondisi lingkungan, contoh kebersihan lingkungan, masih banyak yang membuang sampah sembarangan, kurang menjaga kebersihan saluran air, dan lain-lain,” ujarnya.

Pakar Pengembangan Evaluasi Pembelajaran ini mencontohkan, seperti penguatan toleransi lingkungan pada masyarakat bantaran kali Ciliwung salah satunya di daerah Bukit Duri Tebet Jakarta Selatan, dapat dilakukan dengan pendekatan agama.

Baca Juga:  Pesan Ridwan Kamil untuk Penerima Beasiswa JFLS: Belajar Sungguh-sungguh

“Yakni melalui kerjasama dengan tokoh agama dan pengurus majlis taklim untuk menghimbau bahwa peduli lingkungan adalah  bukti keimanan kita pada yang maha kuasa yakni Allah SWT,” katanya.

Pendekatan agama, kata dia, dapat dilakukan sebagai instrumen penguat toleransi lingkunagan karena kegiatan kegamaan sangat kental dilingkungan masyarakat Bukit Duri.

Lebih lanjut dia memaparkan, ajaran agama dapat dijadikan stimulus  memperkuat toleransi lingkungan, karena ajaran agama menjelaskan akan ada  reward  bagi orang yang peduli lingkungan yakni  memperoleh lingkungan bersih dan terhindar dari bahaya banjir khususnya di daerah rawan banjir seperti di Bukit Duri.

Baca Juga:  Punya Rektor Baru, Universitas Binawan Siap Terapkan Perubahan

“Sedangkan bagi orang tidak peduli lingkungan akan mendapat punishment  antaralain memproleh lingkungan yang kotor dan akhirnya menimbulkan bencana alam,” katanya.

“Penguatan sosiokultural, penting dilakukan karena kebiasaan yang berlangsung di masyarakat akan mudah menstimulus seseorang untuk menerapkan karena ada dorongan dari kelompok untuk saling kerjasama,” sambunganya.

Dia mencontohkan, misalnya di wilayah Bukit Duri Jakarta sering melakukan budaya kumpul warga dalam bentuk arisan maupun senam sehat bersama warga.

Baca Juga:  Kodim 0619 dan Polres Purwakarta Latih Jiwa Kepemimpinan Siswa SMAN 1

“Kebiasan kumpul warga dapat dijadikan alat untuk berbagi ide, gagasan, saran dan nasihat terhadap kondisi wilayah yang dihadapi, misal ada satu kelompok warga di RW yang berbeda sukses menyadarkan warganya untuk mencintai lingkungan, maka warga di RW lain akan mencontoh, karena pada dasarnya manusia akan mencontoh sesuatu yang akan menghasilkan keberuntungan atau kenyamanan. Dengan demikian kegiatan keagaaman dan kumpul warga harus mendapat dukungan pemerintah, warga dan tokoh agama serta akademisi,” pungkasnya. [red]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Populer

To Top