Politik

Tradisi Aklamasi Hindarkan Golkar Jabar dari Politik Uang

KESATUONLINE | Golkar Jawa Barat memiliki tradisi dalam suksesi Ketua DPD Golkar di provinsi tersebut. Paling tidak, sudah dua kali Musda (Musyawarah Daerah) menghasilkan dua ketua melalui mekanisme aklamasi. Kedua ketua itu yakni Irianto MS Syafiudin atau Yance dan ketua yang saat ini masih menjabat, Dedi Mulyadi.

Fenomena pemeliharaan tradisi tersebut mulai kembali tampak jelang Musda Golkar Jabar X. Santer dikabarkan di internal Golkar Jabar sudah bersepakat menetapkan Sekretaris DPD Golkar Jabar Ade Barkah Surahman. Penetapan tersebut mengarah pada kesepakatan mengangkat Wakil Ketua DPRD Jawa Barat tersebut menjadi suksesor Dedi Mulyadi.

Peneliti CSI (Center Survey Independen) Hadi Saiful Rizal mengamini fenomena tersebut. Menurut dia, mekanisme aklamasi dimaksudkan untuk meminimalisir politik uang atau politik transaksional. Sebab, indikator aklamasi selalu menandakan kesamaan visi, misi serta program partai, bukan nilai transaksi.

“Mekanisme ini saya kira sengaja diadopsi agar tidak ada traksaksi politik. Pertama, karena memang kontribusi nyata Ade Barkah untuk Golkar Jabar sudah sangat nyata. Kedua, ada penjagaan positioning untuk kestabilan gerakan partai,” kata Hadi saat dihubungi via pesan elektronik. Tepatnya, pada Selasa (25/02/2020).

Meski begitu, Hadi menjelaskan bahwa akan terdapat unsur pembeda antara Ade Barkah dan pendahulunya, Dedi Mulyadi. Unsur tersebut kelak terlihat dari pola kepemimpinan dan isu yang dibangun untuk Jawa Barat.

Selama ini, Dedi Mulyadi mengedepankan isu kebudayaan dalam berbagai kesempatan. Termasuk, saat memimpin Golkar Jawa Barat di medio lima tahun terakhir. Sementara, Ade Barkah menurut dia, terlihat memiliki kepedulian lebih terhadap isu religius. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang dirinya yang berasal dari Kabupaten Cianjur.


“Aspek keislaman di Cianjur terasa lebih kental. Ini modal buat Kang AB untuk mengisi ruang kosong yang kurang begitu mendapatkan perhatian Dedi Mulyadi. Tentu saja, sifatnya meneruskan karena pola baik AB maupun DM harus berdasarkan AD/ART Partai,” ujarnya.

Penerimaan Kader Golkar Jawa Barat

Kepatuhan terhadap AD/ART Partai menurut Hadi, akan menciptakan penerimaan dari kader Golkar di Jawa Barat. Meskipun, dirinya tidak menampik bahwa akseptabilitas itu pun masih dipengaruhi oleh Dedi Mulyadi sebagai pendahulu.

“Golkar itu kan partai modern, kepatuhan terhadap AD/ART sangat penting. ini akan menimbulkan penerimaan kader terhadap apapun keputusan Musda Golkar nanti. Kalaupun ada perbedaan persepsi, itu bisa diatasi dengan sikap akomodatif,” katanya.

Saat ditanya tentang prediksi perolehan suara Golkar di DPRD Jawa Barat pada Tahun 2024 nanti, Hadi enggan berkomentar. Menurut dia, kinerja dan pola kepemimpinan Ade Barkah selama lima tahun ke depan akan menjawab pertanyaan tersebut.

“Saya belum bisa menjawab ini karena nanti berkaitan dengan kinerja partai secara holistik,” katanya. [red]

Baca Juga:  Survei IDM Pilkada Karawang: Akseptabilitas dan Elektabilitas Yesi Karya Lianti Kalahkan Bupati Petahana Cellica Nurrachadiana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Populer

To Top